Sungguh sangat memprihatinkan. Sebagian warga muslim begitu ngotot menolak Ahok karena alasan agama & minoritas. Demi kepentingan politik, tega-teganya memperdaya dan membodohi sesama umat dengan mempolitisasi agama dan ayat-ayat.

Dari a-z tentang tafsir ayat-ayat al Quran yang dijadikan sebagai pembenaran anti Ahok telah banyak yang memperdebatkan dan membahas. Dan sepertinya tidak akan pernah selesai hingga akhir zaman.

Sebaik-baik ahli tafsir adalah Nabi Muhammad SAW sang pembawa pesan. Tapi kan tidak mungkin menanyakan kepada beliau. Maka dari itu, yang bisa dilakukan adalah ittiba’ rasul.

Jika sebab karena Ahok non muslim tidak boleh menjadi pemimpin, bagaimana dengan Nabi Muhammad SAW yang menerima dan mengakui Abu Thalib yang non muslim sebagai pemimpin Bani Hasyim menggantikan ayah beliau?

Tapi namanya udah taklid buta pake kacamata kuda gak pernah baca berita, tidak mau membuka hati dan pikirannya, perkara yang sederhana seperti itupun pasti bakalan didebat.

Lho pemimpin Bani kan bukan gubernur, bukan tukang gusur !?”. 

“Lah emang, Al Maidah juga bahas tentang gubernur?”. 

“Tuh kan udah dibilang tidak akan pernah selesai berdebat”.^_^

Daripada memperdebatkan tafsir, lihatlah sejenak dari sisi perspektif ‘Kehendak Allah SWT’. Adalah kebenaran yang haq dan tidak bisa dibantah, bahwa sekecil apapun peristiwa dan kejadian di alam semesta adalah atas Kehendak dan Kuasa-Nya. Termasuk Ahok menjadi gubernur Jakarta.

Sebagai umat muslim tidak boleh ragu dan harus meyakini ketentuan Allah. Dan Allah tidak pernah keliru. Ketentuan-Nya adalah yang terbaik untuk kebaikan warga Jakarta khususnya dan Indonesia pada umumnya. Yang tidak percaya berarti kafir (mengingkari kebenaran).

Seandainyapun tidak setuju, manusia dikaruniai akal untuk berfikir apa maksud Allah SWT menjadikan Ahok gubernur? Apakah hanya untuk dicemooh, dicaci maki, difitnah dan dihina? Atau Allah SWT sedang menunjukkan sesuatu kepada kita dan mengingatkan kelalaian umat muslim?

Selama ini kita ribut simbol dan atribut agama tapi lupa esensi mengapa manusia harus beragama. Pemahaman kita keliru tentang pemimpin, pejabat, negara hubungannya dengan agama.

Hikmah, pelajaran dan manfaat dibalik mengapa Allah menghendaki Ahok.

Pertama, hakikat gubernur bagi rakyat adalah pembantu atau pelayan. Pejabat yang mengurusi dan mengelola kebutuhan majikannya (rakyat). Ahok minoritas tapi memiliki kemampuan, berpengalaman, berani dan jujur.

Jakarta kota yang kaya raya, ketika minoritas yang mengelola dan mayoritas mengawasi jalannya pemerintahan dengan semestinya, minoritas sebagai pengelola tidak akan pernah berani mencoba-coba melakukan penyelewengan. Maka, jalannya pemerintahan akan sehat dan bermanfaat bagi mayoritas umat.

Allah SWT sedang mengingatkan bahwa gubernur adalah sekedar pelayan, administrator bukan imam.

Kedua, Seandainya Ahok itu muslim, bisa jadi akan sangat berbahaya. Efek buruknya bagi masyarakat akan jauh lebih besar dan merusak aqidah.

Mengapa begitu? Fakta, bahwa sebagian masyarakat muslim masih banyak yang irrasional percaya tahayul, klenik dan mengangung-agungkan sesama manusia melebihi nabi-nabinya. Seperti contoh, sekelompok umat muslim yang menjadikan Erdogan sebagai junjungan seolah-olah pemimpin muslim yang sempurna. Padahal Erdogan juga memiliki kekurangan yaitu sifat diktaktor dan suka kemewahan. Pun, bagi pemujanya kenyataan itu diabaikan.

Kejadian beruntun sekelompok umat muslim yang irrasional karena tertipu Dimas Kanjeng Taat Pribadi dan Aa’ Gatot Bradjamusti adalah kenyataan kondisi sosial sebagian umat muslim di Indonesia yang mudah terperdaya. Irrasional bisa menjangkiti siapa saja. Bukan saja orang-orang biasa, bahkan ilmuwan ICMI bergelar doktorpun bisa kehilangan akal sehatnya.

Apa hubungannya kondisi sosial masyarakat yang irrasional itu dengan Ahok?

Bayangkan saja! Ahok yang non muslim, karena sepak terjangnya bisa mempunyai pengikut riil di Jakarta 1 juta manusia, belum lagi yang tersebar diseluruh Indonesia. Harus diakui, sifat Ahok memenuhi kriteria tanda-tanda sebagai ‘Waliyullah’ yaitu ‘tidak mempunyai rasa takut dan tidak mempunyai rasa kawatir’. Bagaimana jika Ahok itu bukan keturunan tionghoa, santun dan muslim dengan tutur kata bahasa yang halus menghanyutkan seperti Anies, ganteng seperti Agus dan kesehariannya bersorban seperti Abu Jahal. ^_^

Peluang Ahok dipuja-puja dan menjadi junjungan akan jauh lebih dahsyat. Bisa-bisa Ahok dibaiat jadi wali ke 11 setelah Gusdur. Seandainya gubernur sebagai pelayan itu juga Waliyullah, bagaimana kita bisa mengingatkan dan mengkritisinya?

Kejadian-kejadian memuja sesama manusia yang menyesatkan dan hikmah mengapa Allah menghendaki Ahok, menjadi momentum bagi para ulama untuk instrospeksi dan mereposisi dirinya. Pertama, Kembali ke khitah sebagai pencerah. Kedua, Tidak berpolitik tapi berdiri ditengah. Bahwa antara negara dengan agama tidak bisa dicampur adukkan tapi juga tidak bisa dipisahkan. Peran ulama dan umaro dalam bernegara jelas masing-masing fungsi serta tanggungjawabnya. Ketiga, Mengedukasi umat untuk dapat membedakan antara imam, pemimpin umat dan pejabat pelayan rakyat. Keempat, mengedukasi umat bahwa dalam ajaran Islam, sebaik-baik perilaku manusia yang patut dicontoh adalah perilaku para utusan Allah, mulai dari nabi Adam hingga nabi Isa/Yesus dan nabi Muhammad SAW. Sehingga dalam mengidolakan sesama manusia tidak boleh berlebihan apalagi dijadikan sesembahan.

Itulah pelajaran berharga dan hikmah yang bisa dipetik, mengapa Tuhan menghendaki Ahok menjadi gubernur jakarta, bukan manusia sempurna yang adanya hanya dinegeri dongeng. Ahok adalah seorang manusia biasa yang memiliki nyali, keberanian dan keahlian.

Bagi masyarakat yang mau membuka hatinya, berfungsi akal sehatnya akan merasa sangat bersyukur. Ahok adalah berkah karena ketentuan Allah itu tidak pernah salah.

 

Advertisements